KUMPARTA: Akuntansi : Ilmu Pengetahuan Value Free Atau Value Laden
Selasa, 17 April 2012

Akuntansi tidak lagi dilihat hanya sebagai alat teknis, bukan sebagai aspek dimensi tunggal, akuntansi bukan realitas debit/kredit semata, tetapi sebagai kompleksitas sosial, politik, ekonomi dan hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu Akuntansi harus dipandang sebagai tuntutan sebuah tanggunjawab keimanan, ketaqwaan dan ahlak mulia yang berlandaskan pada kepatuhan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, kecintaan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, pengakuan orang yang bersyukur atas nikmat yang disyukuri, sanjungan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri atas nikmatnya dan tidak menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang tidak disukai oleh yang disyukuri atau dengan kata lain tuntutan sebuah tanggunjawab yang bersikap adil, jujur secara intelektual, serta bebas dari benturan kepentingan. Dengan demikian Akuntansi harus menjadi disiplin ilmu “RAHMATAN LILALAMIN” bagi Kehidupan di Dunia dan Akhirat.


Cara Kerja Paradigma
Paradigma merupakan seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak pada kehidupan sehari-harinya.  Atau merupakan seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan seseorang, baik tindakan keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah. Dalam disiplin intelektual paradigm merupakan cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).  Paradigma juga dapat berarti seperangkat asumsi, konsep, nilai, dan praktik yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah komunitas yang sama, khususnya, dalam disiplin intelektual. Oleh karena itu mengacu pada proses pembentukannya, paradigma dibentuk berdasarkan pada Nature of Sosial Science (berbicara pada pemahaman terhadap realitas) dan Nature of Sociaty (berbicara apakah ilmu pengetahuan itu given atau hasil pemikiran manusia, disinalah muncul istilah sosial change dan sosial order). Paradigma dalam penilitian dapat dilihat pada gambar berikut :

 Gambar : Paradigma
Sumber : Di kembangkan dari Burrel and Morgan 1979



Gambar : Dimensi Paradigma


Karakteristik Paradigma
Qualitative
Quantitative
Relativistic
Holistic
Inductive
Ideographic
Descriptive/exploratory
Speculative/Illustrative
Grounded
Subjective
Expose actors’ meaning
Flexible/Fluid
Case-study
Political
Non-rigorous
Soft
Dry
Good
Bad
Story-telling
Feminine
Universalistic
Atomistic
Deductive
Nomothetic
Explanatory
Hypothesis testing
Abstract
Objective
Impose theory
Fixed
Survey
Value-free
Rigorous
Hard
Wet
Bad
Good
Number-crunching
Masculine

Sumber : Adopted from Blaikie (2003) based on Halfpenny (1979)

Bagaimana paradigma bekerja dalam Positive Accounting Theory (PAT)

Sadar atau tidak bahwa perkembangan Ilmu pengetahuan dan kapitalisme selalu berinteraksi secara aktif melalui gerak dialektika yang tidak dapat dihindarkan. Gerakan ini memunculkan perkembangan teori ilmu pengetahuan seperti Positive Accounting Theory (PAT) yang sejalan dengan kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme secara pasti telah melahirkan teknologi yang membawa perubahan radikal dalam dunia modern. Sehingga akhimya Ilmu pengetahuan, teknologi dan kapitalisme menjadi tiga pilar yang saling membagi berperan dalam membentuk jaringan rasionalitas instrumental, rasionalitas efisiensi, birokrasi dan kalkulasi cost/benefit untuk memerdekakan dan mencerahkan manusia sesuai dengan cita-cita pencerahannya. Seiring dengan sejarah kelahiran teorinya, akuntansi merupakan salah satu ilmu sosial dimana ilmu pengetahuan dan prakteknya sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kapitalisme. Ini sejalan dengan asumsi pokok Positive Accounting Theory (PAT) itu sendiri yakni:
All individuals’ action is driven by self-interest and individuals will act in an opportunistic manner to the extent that the actions will increase their wealth ” Deegan (2006)
Intinya, semua tindakan individu dimotivasi atau didorong oleh kepentingan pribadi, bahkan tindakan oportunis (moral hazard) akan dilakukan, selama tindakan tersebut mampu meningkatkan kesejahretaannya. Dalam kondisi seperti ini maka etika dan moralitas individu atau praktisi bukan menjadi hal penting dalam menjalankan praktek akuntansi. Sehingga pada akhirnya jaringan kerja dan relasi-relasi yang dibentuk kapitalisme telah mengubah perilaku dalam praktek akuntansi serta turut dalam mewamai praktek akuntansi yang disebut-sebut sebagai instrumen penting dalam dunia bisnis (the language of business). Sejalan dengan itu, Triker (1978 ; 8) melihat akuntansi sebagai anak dari budaya di mana akuntansi itu berada, atau dengan kata lain akuntansi sebagai suatu ilmu pengetahuan maupun prakteknya dibentuk melalui interaksi sosial yang sangat kompleks, jika lingkungan yang membentuk akuntansi tersebut adalah lingkungan kapitalisme, maka perkembangan akuntansi sebagai ilmu pengetahuan dan prakteknya akan bernafaskan kapitalisme juga. Beberapa bukti dalam dasawarsa terakhir telah menunjukkan bahwa praktek akuntansi selama ini kental dengan kapitalisme, bakhan, akuntansi dalam lingkungan idiologi kapitalisme menjadi tidak berdaya dan mau tidak mau harus tunduk dalam idiologi kapitalisme.
Premis tersesut bukan hanya sekedar isapan jempol semata, tetapi mari kita lihat kasus demi kasus yang mewarnai pasang surutnya praktek akuntansi merebak dimana-mana. Misalnya  di US kasus  KPMG, Arthur Andersen, Ernst & Young, Deloitte & Touche, Pricewater House Coper serta Friehling & Horowitz dalam kasus Computer Associatec, Lemout dan Hauspie,Enron, World Com, Xerox, One Tel, AOL, Bristol-Myers Squibb, Merrill Lynch, Tyco International, AIG.  Di Eropa seperti sekandal akuntansi BCC1, Maxwell, Polly Peck (UK) serta di Australia terjadi pada perusahaan HIH Insurance. Selain itu di negara-negara berkembang seperti skandal PT Bank Bali, Bank Lippo, Asian Agri and Sinar Mas Group (Indonesia), Bangkok Bank of Commerce (Thailand), United Engineers Bhd (Malaysia), Samsung Electronics and Hyundai (Korea) (John, Boone, Breach dan Friedman, 2000).
Dari argumentasi diatas jelas bahwa dalam lingkungan idiologi kapitalisme, etika dan moralitas individu atau praktisi bukan menjadi hal penting dalam menjalankan praktek akuntansi serta akuntansi menjadi tidak berdaya dan mau tidak mau harus tunduk dalam idiologi kapitalisme benar adanya. Namun demikian, meskipun akuntansi dibentuk oleh lingkungannya, akuntansi dapat pula berbalik mempengaruhi/membentuk lingkungannya, sebagaimana dipertegas oleh Mathews dan Parera (1993; 15) dengan mengatakan:
Although the conventional views is that accounting is socially constructed as a result of social, economic and political events, there are alternative approaches which suggest that accounting may he socially constructing.
Kaitannya dengan pernyataan tersebut dapat di pandang bahwa akuntansi diibaratkan sebagai pedang bermata dua, di satu sisi akuntansi dibentuk oleh lingkungannya (socially constructed) dan disisi lainnya akuntansi membentuk lingkungannya (socially constructing). Hal ini sekaligus memastikan bahwa akuntansi bukanlah suatu bentuk ilmu pengetahuan dan praktek yang bebas dari nilai (value free), tetapi sebaliknya akuntansi adalah disiplin ilmu pengetahuan dan prakteknya sarat dan kental dengan nilai. Namun, karena akuntansi dalam praktek bisnis modern sangat identik dengan angka-angka maka akuntansi dilabeli sebagai ilmu pengetahuan bebas nilai (value free). Hal ini yang kemudian menstikma bahwa tanpa angka adalah sesuatu hal yang sangat mustahil bagi akuntansi dan implikasinya adalah bahwa tanpa angka akuntansi kita tidak dapat menggambarkan kedaaan entitas bisnis, celakanya lagi argumentasi tersebut  di amini oleh banyak kalangan misalnya Hines (1981;61) yang mengemukakan, akan jadi apa "posisi keuangan " atau "kinerja " atau "ukuran " sebuah perusahaan tanpa akuntansi keuangan ? tanpa konsep "aktiva", kewajihan, "modal”, dan "laba" (yang semuanya diterjemahkan dalam bentuk angka). Dalam perkembangannya kemudian,Teori Akuntansi Positif (PAT) merupakan teori yang hadir untuk melengkapi Teori Akuntansi  Normatif. Oleh karena Teori Akuntansi  Normatif hanya berpikir apa yang seharusnya dilakukan dalam praktek akuntansi, maka menurut Scott (2000) bahwa Teori akuntansi positif berusaha untuk membuat prediksi yang baik sesuai dengan kejadian yang nyata. Artinya  teori akuntansi positif berusaha menjawab pertanyaan timbul dari fenomena :
1.       Apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang diperoleh dalam pemilihan metode akuntansi alternatif ?
2.       Apakah biaya yang diperoleh sebanding dengan manfaat yang diperoleh dalam regulasi dan proses penentuan standar akuntansi ?
3.       Apa dampak laporan keuangan yang dipublikasikan pada harga saham ?

Berdasarkan pandangan inilah Teori akuntansi positif mempunyai kepercayaan bahwa realita sosial berada secara independen dari manusia yang memiliki sifat atau esensi tersendiri. Hal ini mengakibatkan fenomena empiris terpisah dari penelitian. Dengan demikian validitas ilmiah dari dunia empiris diuji melalui observasi. Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dalam teori akuntansi positif dapat dikelompokkan menjadi dua tahap, yakni :
Pertama, penelitian akuntansi dan perilaku pasar modal. Dalam tahap ini tidak dijelaskan tentang praktek akuntansi, tetapi dilakukan penelitian terhadap hubungan pengumuman laba dengan reaksi harga saham. Untuk melakukan penelitian dalam tahap ini digunakan Hipotesis Pasar Efisien (Efficiency Market Hyphothesis) (Scott,2000). Pasar modal efisien adalah pasar modal dimana harga surat-surat berharga yang diperdagangkn setiap waktu secara wajar dan merefleksikan semua informasi yang diketahui publik berkaitan dengan surat berharga dan Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Kedua, penelitian dalam tahap kedua dilakukan untuk menjelaskan dan memprediksi praktek akuntansi antar perusahaan yang difokuskan pada alasan oportunistik dalam hal perusahaan memilih metode akuntansi tertentu, atau pada alasan efisiensi yaitu metode akuntansi dipilih untuk mengurangi biaya kontrak antara perusahaan dengan stakeholder-nya. Alasan pertama yaitu perspektif oportunistik disebut ex-post yaitu pemilihan metode akuntansi dilakukan sesudah diketahui faktanya. Alasan kedua yaitu perpektif efisiensi disebut ex ante karena pemilihan metode akuntansi dilakukan sebelumjgktanya diketahui. Penelitian dibidang ini menggunakan agency theory yang membahas tentang paradigma pengendalian (control). Sebagaimana tiga Hipotesis dalam teori akuntansi positif yang dirumuskan oleh Watt & Zimmerman (1986) dalam bentuk "oportunistik" yakni :
1.   Hipotesis program bonus (Plan Bonus Hypothesis), dalam ceteris paribus para manajer perusahaan dengan rencana bonus akan lebih memungkinkan untuk memilih prosedur akuntansi yang dapat menggantikan laporan earning untuk periode mendatang ke periode sekarang atau dikenal dengan income smoothing.
Dengan hipotesis tersebut apabila manajer dalam sistem penggajiannya sangat tergantung pada bonus akan cenderung untuk memilih metode akuntansi yang dapat memaksimalkan gajinya, misalnya dengan metode acrual.
2.       Hipotesis perjanjian hutang (Debt Convenat Hypothesis), dalam ceteris paribus manajer perusahaan yang mempunyai ratio leverage (debt/equity) yang besar akan lebih suka memilih prosedur akuntansi yang dapat menggantikan laporan earning untuk periode mendatang ke periode sekarang.
Dengan memilih metode akuntansi yang dapat memindahkan pengakuan laba untuk periode mendatang ke periode sekarang maka perusahaan akan mempunyai leverage ratio yang kecil, sehingga menurunkan kemungkinan default technic. Seperti diketahui bahwa banyak perjanjian hutang mensyaratkn peminjamjjntuk mematuhi atau mempertahankan rasio hutang atas modal, modal kerja, ekuitas pemegang saham dll.selama masa perjanjian, jika perjanjian tersebut dilanggar perjanjian hutang mungkin memberikan penalti, seperti kendala dalam deviden atau pinjaman tambahan.
3.    Hipotesis biaya politik (Political Hypothesis), dalam ceteris paribus semakin besar biaya politik perusahaan, semakin mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang menangguhkan laporan earning periode sekarang ke periode mendatang
Hipotesis ini berdasarkan asumsi bahwa perusahaan yang biaya politiknya besar lebih sensitif dalam hubungannya untuk mentransfer kemakmuran yang mungkin lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang biaya politiknya kecil dengan kata lain perusahaan besar cenderung lebih suka menurunkan atau mengurangi laba yang dilaporkan dibandingkan perusahaan kecil.

Riset demi riset dilakukan dibidang penelitian akuntansi dan perilaku pasar modal dan prilaku oportunistik dalam kaitanya agency theory. Seiring dengan perkembangan Teori akuntansi positif tidak terlepas dari kritik pedas oleh berbagai kalangan baik “positive” maupun “negative” seperti dilakukan Ball dan Foster (1982), Tinker et.al. (1982), Christenson (1983), Holthausen & Leftwich (1983), Lowe et.al (1983), Mc Kee et.al (1984), Whittington (1987), Hines (1988), Sterling (1990), Boland dan Gordon (1992), Gaffikin (2005). Kritik “positif” terhadap Positive Accounting Theory namun sayangnya kritik-kritik tersebut hanya berkutat pada tataran metodologis dan untuk kepentingan pragmatism utility of accounting research semata. Sedangkan kritik “negatif” yang sebenarnya lebih fundamental, pada dataran filosofis (value laden) dan asumsi dasar teoritis (utility maximization), ternyata tidak (atau belum?) dipahami sebagai bentuk relationship of scientific accounting development. Tetapi selalu dipahami sebagai contradiction of scientific accounting development (Aji Dedi Mulawarman : 2007).
Adapun peneliti yang mengkritik teori akuntansi positif dapat dilihat pada tabel berikut :

Peneliti
Topik
Kritikan
Ball dan Foster (1982)
Review atas penelitian akuntansi secara empiris
*    Ukuran perusahaan dan perencanaan bonus dapat sebagai proksi untuk melupakan vanabel - variabel lainnya
*    Kelemahan teori yang mendukung konstruksi pondasi untuk besaran biaya politik
*    Sampel yang digunakan tidak dapat dipertahankan
Tinker et.al. 1982
Teori Positif vs teori normatif
*    Teori positif merupakan nilai muatan dan pelindung untuk mencegah adanya bias.
*    Mengabaikan penekanan kelas yang diperebutan.
Christenson (1983)
Metodologi dari teori positif
*    Logikal positif menggunakan metodologi yang sudah usang.
*    Pendekatan dalam '' Sosiologi Akuntansi di dalam teori akuntansi.
*    Mengenalkan standar pengujian suatu argumentasi tentang perkecualian pembatalan pada teori.
*    Tidak layaknya metode yang digunakan untuk menjelaskan konstruksi teori.
Holthausen & Leftwich (1983)
Review konsekuensi literatur ekonomi.
*    Keterbatasan interpretasi yang dihasilkan, disebabkan oleh :
Tidak lengkapnya teori politik dan kontrak.
Problem khusus dalam dependen dan independen variabel.
Lowe et.al (1983)
W & Z (1979)
*     Kerangka ekonomi tidak bisa dijustifikasi.
*     Pendekatan positif membuka suatu perselisihan.
*     Kesepakatan alarm bukan menipakan suatu ilmu pengetahuan.
*     Adanya perbedaan bukti yang disajikan.
Mc Kee et.al (1984)
Replicasi dari W & Z (1978)
*     Hasilnya tidak dapat diterapkan pada sampel yang baru.
*     Diluar sampel itu tidak dapat digunakan.
*     Pengetahuan kedepan dari proporsi sampel bias pada estimasi parameter.
Whittington (1987)
Review W&Z(1986)
*     Antara argumentasi dan bukti yang disajikan tidak seimbang.
*     Metodologinya ekstrim
*     Teori positif bermuatan nilai.
*     Pendekatan “ sosiologi akuntansi ” didalam teori akuntansi.
Hines (1988)
Christenson (1983) dan metodologi
Kelayakan evaluasi yang ditunjukkan tidak dapat dipraktekkan dalam penelitian akuntansi empiris.
Sterling (1990)
Studi fenonema dan value free
Studi Fenomena :
Fenomena akuntansi dan akuntan hanya diukur melalui mathematical constructions, yang digunakan untuk merepresentasikan bentuk-bentuk (informasi) akuntansi. Konstruk matematis ini dianggap Sterling hanya dapat memotret kata-kata dan angka-angka tanpa dapat melihat bentuk riil (things) dan kejadian (events).
Studi Value Free :
Realitas empiris sebenarnya mempraktikkan aspek normatif akuntansi, yang kemudian diuji secara statistik (positif) yang kemudian melakukan konfirmasi teori.

Berdasarkan argumentasi-argumentasi kritik yang disampaikan oleh para pneliti tersebut, perlu di tegaskan bahwa dimana keberadaan akuntansi sebuah ilmu pengetahuan, apakah akuntansi merupakan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (value free) atau akuntansi merupakan ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai (value laden). Disinilah sangat jelas bahwa peran dan bagaimana paradigma berkerja.

Referensi :
Aji Dedi Mulawarman (2007) Positive Accounting Theory: Apakah Perlu Dikritik? http://ajidedim.wordpress.com/2007/12/26/positive-accounting-theory-pakah-perlu-dikritik/ di download pada tanggal 7/04/2012
Boland Lawrence A, Irene M. Gordon. 1992. Criticizing Positive Accounting Theory. Contemporary Accounting Research. 9(1). pp. 142-170
Christenson, Charles. 1983. The Methodology of Positive Accounting. The Accounting Review. LVIII (1) pp 1-22.
Deegan, C. 2006. Financial Accounting Theory. 2 Edition. Mcgraw-Hill Australia Pty Ltd.
Gaffikin, 2005. Positive Accounting: Where About?. Notes for an Introduction to Theoritical Foundations of Research. The First Postgraduate Consortium on Accounting. Brawijaya University. March, 1, 2005.
Lawrence Boland,1992, Critizing Positive Accounting Theory, Journal of Accounting Research, Vol.9, no. l(fall), hal. 142-170
http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma di download pada tanggal 7/04/2012
Scott,2000,Financial Accounting Theory, Prentice hall Inc.
Tinker, Anthony M., Barbara D. Merino, Marilyn Dale Neimark. 1982. The Normative Origins of Positive Theories: Ideology and Accounting Thought. In Accounting Theory: A Contemporary Review. Jones, Stewart., C. Romano, J. Ratnatunga (ed.). 1995. Harcourt Brace. Australia.
Watts and Zimmerman, 1986,Positive Accounting Theory, Prentice Hall.
­­­___________________,1990, Positive Accounting Theory : Ten Year Perspective, Accounting Review, Vol. 65,January
Whitington. 1987. Positive Accounting: A Review Article. Accounting and Business Research. 17(68). pp 327-336.

0 komentar:

KUMPULAN JURNAL PARADIGMA SPIRITUAL:
Loading...