KUMPARTA: Mei 2012
Diberdayakan oleh Blogger.

Postingan Populer

Sabtu, 19 Mei 2012

Ilmu Pengetahuan Tanpa Agama Buta
Agama Tanpa Ilmu Pengetahuan Pincang

Pendahuluan
            Ilmu Pengetahuan dan Agama prinsipnya adalah sama-sama konsep Realitas, yang berbeda adalah Ilmu Pengetahuan mengklaim sebagai pemilik kutup fakta-fakta atau lebih dikenal dengan konsep modernitas sebagaimana yang dipelopori oleh Auguste Comte, Sigmund Freud, Karl Marx, dan Bertrand Russell, sedangkan Agama mengklaim sebagai pemiliki kutup spiritual atau konsep alam semesta. Perbedaan klaim inilah yang akhirnya memunculkan sikap perang antara orientasi ilmu pengetahuan dan Agama. Ilmu menyangkal validitas untuk agama dan Agama menyangkal validitas untuk ilmu pengetahuan. Namun, pada umumnya, agama klasik tidak pernah menyangkal ilmu, hal ini karena (a). Ilmu pengetahuan bukanlah ancaman (hanya dengan modernitas ilmu tidak cukup kuat untuk membunuh Tuhan), dan (b). Karena ilmu pengetahuan selalu dianggap sebagai salah satu dari beberapa perilaku mode jasmani dan mode rohani. Pada saat yang sama, perlu dicatat bahwa ilmu-ilmu kuno yang disampaikan oleh Newton, Galileo dan Kepler cenderung membuat ilmu itu sendiri menjadi agama baru yaitu agama positivisme (seperti apa yang diusulkan oleh Auguste Comte).
      Hal ini sejalan dengan pokok pikiran para tokoh modernisme yang menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri.  Ada 7 aliran yang meramaikan kancah modernism yaitu aliran idealism, materialisme, dualisme, empirisme, fenomenalisme dan intusionalisme, namun tentang aspek mana yang berperan ada tiga arus utama yang dominan mewarnai filsafat modern yakni pertama aliran rasionalisme yang beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio (akal) : kebenaran pasti berasal dari rasio (akal), kedua aliran empirisme, sebaliknya, yang meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi dan yang ketiga adalah aliran kritisme yang memadukan kedua pendapat tersebut.
Disisi lain para penganut epistemologis pluralisme tradisional seperti mistikus Kristen St. Bonaventure dan Hugh St Victor menyatakan bahwa setiap manusia memiliki mata hati, mata pikiran dan mata kontemplasi. Masing-masing memiliki dimensi dan objek yang berbeda-beda (misalnya : kasar, halus dan sebab-akibat), dan masing-masing memiliki keyakinan yang berbeda tentang realitas alam. Inilah yang selanjutnya memberi kita keseimbangan pengetahuan empiris (Sains), pengetahuan rasional (logika dan matematika), dan pengetahuan spiritual (gnosis).
Pengetahuan dari Ketiganya (mata hati, mata pikiran dan mata kontemplasi), tentu saja, hanya versi sederhana dari rantai besar yang universal. Jika kita gambarkan, rantai besar tersebut memiliki lima tingkat yakni (matter, body, mind, soul, and spirit), begitu pula dengan manusia, mereka memiliki lima mata yang telah tersedia yakni (material prehension, bodily emotion, mental ideas, the soul’s archetypal cognition, and spiritual gnosis). Demikian juga, jika rantai besar dibagi ke dalam dua belas tingkatan, maka kita juga akan memiliki dua belas mata, atau dua belas tingkat kesadaran dan pengetahuan. Sebagaimana di kemukakan oleh filsuf mistik dunia “Plotinus-arguably” yang membagi rantai besar tersebut kedalam dua belas tingkatan yakni matter, life, sensation, perception, impulse, images, concepts, logical faculty, creative reason, world soul, nous, and the One.
Intinya adalah bahwa, dengan cara apapun kita membagi tingkat besar tersebut kedalam baik, tiga tingkat, lima tingkat, dua belas tingkat atau lebih, laki-laki dan perempuan telah tersedia untuk mereka setidaknya tiga mata dasar untuk mengetahui: mata hati (Empirisme), mata pikiran (rasionalisme) dan mata kontemplasi (mistisisme), yang masing-masing penting dan cukup berlaku ketika berhadapan dengan tingkatnya sendiri, tetapi akan berbeda ketika melihat domain yang lainnya. Ini adalah jantung pluralisme epistemologis, dan sejauh memandang, itu memang cukup berlaku.
            Sekarang, jika keberadaan tiga mata tersebut digunakan untuk melihat fakta modernitas, maka hubungan ilmu pengetahuan dan agama akan tidak ada masalah sama sekali. Hal ini karena, Sains empiris akan mampu menyerap fakta-fakta yang disampaikan oleh mata hati, roh (atau mata kontemplasi) dan agama akan mampu menyerap fakta-fakta disampaikan oleh mata pikiran. Akan tetapi bagi arus utama modernitas akan tetap pada keyakinanya yakni tidak mengakui realitas mata hati,roh. Arus utama Modernitas mengakui hanya pada mata pikiran bukan pada mata hati, atau kontemplasi, dominasi pandangan inilah dalam dunia modern dikenal dengan materialisme ilmiah, sehingga tidak mempertimbangkan sains ilmu holistic dari teori sistem atau subatomic physics dari peristiwa fisika kuantum, pokoknya bahwa ilmu pengetahuan adalah mata pikiran terkait dengan bukti-bukti yang ditawarkan oleh indra empiris. Dalam kasus ini tidak ada mata kontemplasi atau mata hati diperlukan atau bahkan diperbolehkan.
            Kesulitan sesungguhnya, kemudian, adalah bagaimana bisa menghadirkan atau mengitegrasikan empirisme, rasionalisme, dan mistisisme secara bersama-sama dalam satu pandangan. Untuk menjawab hal itu, sebenarnya merupakan bagian yang mudah. Bahkan semua orang percaya, bahwa ketiganya dapat dihadirkan secara bersama. Bagian yang sulit adalah modernitas yang tidak menerima keberadaan (transmental, transrational, transpersonal, dan mode kontemplatif), dan yang merasa tidak perlu ada integrasi apapun. Untuk apa mencoba mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan Santa Claus?. Inilah yang sampai saat ini menjadi keyakinan para tokoh aliran idealism, materialisme, dualisme, empirisme, fenomenalisme dan intusionalisme dalam memaknai ilmu pengetahuan dan agama.

Aliran Rasionalisme
Rasionalisme merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki. Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yang terpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika Inggeris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).
            Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M).  Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis.  Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.
            Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu “saya ragu-ragu”.  Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa “aku ragu-ragu”.  Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya.  Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah “cogito ergo sum”, aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.  Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi.  — Mengapa kebenaran itu pasti?  Sebab aku mengerti itu dengan “jelas, dan terpilah-pilah” — “clearly and distinctly”, “clara et distincta”.  Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar.  Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran.
            Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, “extention”) atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu).  Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil.  Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan). Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.
Tokoh-tokohnya
1.      Rene Descartes (1596 -1650)
2.      Nicholas Malerbranche (1638 -1775)
3.      B. De Spinoza (1632 -1677 M)
4.      G.W.Leibniz (1946-1716)
5.      Christian Wolff (1679 -1754)
6.      Blaise Pascal (1623 -1662 M)

Aliran Empirisme
            Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan.  Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
            Dua hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama.  Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, “aku” tidak lain hanyalah “a bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)”. kausalitas.  Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman.  Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat.  Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari “probable” (berpeluang).  Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita.  Hukum alam adalah hukum alam.  Jika kita bicara tentang “hukum alam” atau “sebab-akibat”, sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja. Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera.  Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.
Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otak dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut. Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurut penganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.
Tokoh-tokohnya.
1.      Francis Bacon (1210 -1292)
2.      Thomas Hobbes ( 1588 -1679)
3.      John Locke ( 1632 -1704)
4.      George Berkeley ( 1665 -1753)
5.      David Hume ( 1711 -1776)
6.      Roger Bacon ( 1214 -1294)

Aliran Kritisme
            Aliran kritismen muncul untuk mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu yakni rasionalisme dan Empirisme. Sebagai pelopor aliran kritisme Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini.  Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh.  Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita.  Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. 
            Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia “itu sendiri” (“das Ding an sich”), namun hanya dunia itu seperti tampak “bagiku”, atau “bagi semua orang”.  Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia.  Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita.  Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terbantahkan. Ini bentuk pengetahuan. Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.
Aliran Idealisme
Idealisme merupakan suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu. Dalam perkembangannya aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu. Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sarna sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini. Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting daripada kebendaan. Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali pengaruhnya di Eropa.
Tokoh-tokohnya.
1.    Plato (477 -347 Sb.M)
2.    B. Spinoza (1632 -1677)
3.    Liebniz (1685 -1753)
4.    Berkeley (1685 -1753)
5.    Immanuel Kant (1724 -1881)
6.    J. Fichte (1762 -1814)
7.    F. Schelling (1755 -1854)
8.    G. Hegel (1770 -1831)

Aliran Materialisme
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Dalam perkembangannya sekitar abad pertama masehi faham Materialisme tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap faham Materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropa Barat. Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat. Faktir yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalil- dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan- kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.

Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang menentang Materialisme. Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut :
  • Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari khaos (kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi kacau balau namanya.
  • Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga.
  • Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan.
  • Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.
Tokoh-tokohnya.
1.   Anaximenes ( 585 -528)
2.    Anaximandros ( 610 -545 SM)
3.   Thales ( 625 -545 SM)
4.    Demokritos (kl.460 -545 SM)
5.   Thomas Hobbes ( 1588 -1679)
6.    Lamettrie (1709 -1715)
7.    Feuerbach (1804 -1877)
8.    H. Spencer (1820 -1903)
9.    Karl Marx (1818 -1883)

Aliran Dualisme
Dualisme merupakan ajaran atau aliran/faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri manusia.
Tokoh-tokohnya.
1.      Plato (427 -347 Sb.H)
2.      Aristoteles (384 -322 Sb.H)
3.      Descartes (1596 -1650)
4.      Fechner(1802 -1887)
5.      Arnold Gealinex
6.      Leukippos
7.      Anaxagoras
8.      Hc. Daugall
9.      Schopenhauer (1788 -1860)

Aliran Fenomenalisme
Secara harfiah Fenomenalisme merupakan aliran atau faham yang menganggap bahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, "a way of looking at things".
Gejala adalah aktivitas, misalnya gejala gedung putih adalah gejala akomodasi, konvergensi, dan fiksasi dari mata orang yang melihat gedung itu, di tambah aktivitas lain yang perlu supaya gejala itu muncul. Fenomenalisme adalah tambahan pada pendapat Brentano bahwa subjek dan objek menjadi satu secara dialektis. Tidak mungkin ada hal yang melihat. Inti dari Fenomenalisme adalah tesis dari "intensionalisme" yaitu hal yang disebut konstitusi.
Menurut Intensionalisme (Brentano) manusia menampakkan dirinya sebagai hal yang transenden, sintesa dari objek dan subjek. Manusia sebagai entre au monde (mengada pada alam) menjadi satu dengan alam itu. Manusia mengkonstitusi alamnya. Untuk melihat sesuatu hal, saya harus mengkonversikan mata, mengakomodasikan lensa, dan mengfiksasikan hal yang mau dilihat. Anak yang baru lahir belum bisa melakukan sesuatu hal, sehingga benda dibawa ke mulutnya.
Tokoh-tokohnya.
1.      Edmund Husserl (1859 -1938)
2.      Max Scheler (1874 -1928)
3.      Hartman (1882 -1950)
4.      Martin Heidegger (1889 -1976)
5.      Maurice Merleau-Ponty (1908 -1961)
6.      Jean Paul Sartre (1905 -1980)
7.      Soren Kierkegaard (1813 -1855)

Aliran Intusionalisme
Intusionalisme merupakan suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan.
Tokoh-tokohnya.
1.    Plotinos (205 -270)
2.    Henri Bergson (1859 -1994)

  
Referensi  :
Baker, Anton. 1984. Metode-metode Filsafat. Jakarta. Ghalia Indonesia.
Beering, RF. 1966. Filsafat Dewasa ini. Jakarta. Penerbit Balai Pustaka.
Bertens, 1989. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta. Kanisius.
_________, 1998. Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius, Yogyakarta
_________, 2005. Panorama filsafat modern,DARAS, Jakarta
Brian Duignan, 2011 The History Of Philosophy Modern Philosophy From 1500 Ce To The Present
Budiaman, Arif. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta:Gavindo.
Brower, MAW. 1984. Psikologi Fenomenologi. Jakarta. Penerbit Gramedia.
____________,1986. Sejarah Filsafat Modern dan Sejaman. Bandung. Penerbit Alumni.
Hardiman F.Budi, 2004. Filsafat modern, gramedia, Jakarta
Ken Wilber, 1998. The Marriage Of Sence And Soul Integrating Science And Religion. Random House. New York
Kattsoff, Louis O. 1989. Pengantar Filsafat. Yogyakarta. Penerbit Bayu Indera.
Poedjiadi, Anna. 1987. Sejarah dan Filsafat Sains. Bandung. Penerbit Cendrawasih.
Poedjawijatma. 1980. Pembimbing Ke arab Alam Filsafat. Jakarta. Pembangunan Pranarya, AMW. 1987. Epistemologi Dasar : Suatu Pengantar. Jakarta. CSIS.
Pradja, Juhaya S. 1987. Aliran-aliran Filsafat Dari Rasionalisme Hingga Sekularisme. Bandung. Alva Gracia.
Syadali Ahmad,dkk, 2004.  Filsafat Umum, Pustaka setia, Bandung
Slamet Iman Santoso R.1977. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta. Sinar Hudaya.
Wilbur Applebaum, 2005. The Scientific Revolution and the Foundations of Modern Science. Greenwood Guides to Historic Events, 1500–1900. Greenwood Press. London


Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat 2 :282 dan 283

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù 4 =çGõ3uø9ur öNä3uZ÷­/ 7=Ï?$Ÿ2 ÉAôyèø9$$Î/ 4 Ÿwur z>ù'tƒ ë=Ï?%x. br& |=çFõ3tƒ $yJŸ2 çmyJ¯=tã ª!$# 4 ó=çGò6uù=sù È@Î=ôJãŠø9ur Ï%©!$# Ïmøn=tã ,ysø9$# È,­Guø9ur ©!$# ¼çm­/u Ÿwur ó§yö7tƒ çm÷ZÏB $\«øx© 4 bÎ*sù tb%x. Ï%©!$# Ïmøn=tã ,ysø9$# $·gŠÏÿy ÷rr& $¸ÿÏè|Ê ÷rr& Ÿw ßìÏÜtGó¡o br& ¨@ÏJムuqèd ö@Î=ôJãŠù=sù ¼çmÏ9ur ÉAôyèø9$$Î/ 4 (#rßÎhô±tFó$#ur ÈûøïyÍky­ `ÏB öNà6Ï9%y`Íh ( bÎ*sù öN©9 $tRqä3tƒ Èû÷ün=ã_u ×@ã_tsù Èb$s?r&zöD$#ur `£JÏB tböq|Êös? z`ÏB Ïä!#ypk9$# br& ¨@ÅÒs? $yJßg1y÷nÎ) tÅe2xçFsù $yJßg1y÷nÎ) 3t÷zW{$# 4 Ÿwur z>ù'tƒ âä!#ypk9$# #sŒÎ) $tB (#qããߊ 4 Ÿwur (#þqßJt«ó¡s? br& çnqç7çFõ3s? #·ŽÉó|¹ ÷rr& #·ŽÎ7Ÿ2 #n<Î) ¾Ï&Î#y_r& 4 öNä3Ï9ºsŒ äÝ|¡ø%r& yZÏã «!$# ãPuqø%r&ur Íoy»pk¤=Ï9 #oT÷Šr&ur žwr& (#þqç/$s?ös? ( HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»yfÏ? ZouŽÅÑ%tn $ygtRr㍃Ïè? öNà6oY÷t/ }§øŠn=sù ö/ä3øn=tæ îy$uZã_ žwr& $ydqç7çFõ3s? 3 (#ÿrßÎgô©r&ur #sŒÎ) óOçF÷ètƒ$t6s? 4 Ÿwur §!$ŸÒムÒ=Ï?%x. Ÿwur ÓÎgx© 4 bÎ)ur (#qè=yèøÿs? ¼çm¯RÎ*sù 8-qÝ¡èù öNà6Î/ 3 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ãNà6ßJÏk=yèãƒur ª!$# 3 ª!$#ur Èe@à6Î/ >äóÓx« ÒOŠÎ=tæ ÇËÑËÈ  
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau Dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, Maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu'amalahmu itu), kecuali jika mu'amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, Maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), Maka Sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
[179] Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya.

  
* bÎ)ur óOçFZä. 4n?tã 9xÿy öNs9ur (#rßÉfs? $Y6Ï?%x. Ö`»yd̍sù ×p|Êqç7ø)¨B ( ÷bÎ*sù z`ÏBr& Nä3àÒ÷èt/ $VÒ÷èt/ ÏjŠxsãù=sù Ï%©!$# z`ÏJè?øt$# ¼çmtFuZ»tBr& È,­Guø9ur ©!$# ¼çm­/u 3 Ÿwur (#qßJçGõ3s? noy»yg¤±9$# 4 `tBur $ygôJçGò6tƒ ÿ¼çm¯RÎ*sù ÖNÏO#uä ¼çmç6ù=s% 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÒOŠÎ=tæ ÇËÑÌÈ  
Artinya : Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang[180] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
[180] Barang tanggungan (borg) itu diadakan bila satu sama lain tidak percaya mempercayai.

Fase Masa lalu
Dengan demikian jelas bahwa Pada awalnya manusia tidak mengetahui apa itu akuntansi. Manusia hanya memiliki pengetahuan tentang cara melakukan perhitungan berdasarkan ilmu matematika yaitu ilmu yang paling tua di dunia ini. Ilmu ini dipergunakan oleh manusia untuk melakukan perdagangan terutama ketika perdagangan telah berkembang dengan menggunakan alat tukar berupa uang bukan barter. Perkembangan perdagangan yang semakin meningkat membuat manusia di dunia membutuhkan pencatatan pembelian dan penjualan barang dagangan serta ongkos-ongkos yang terkait dengan perdagangan itu, sehingga muncullah sebuah fenomena pencatatan dalam aktivitas perdagangan.
            Aktivitas pencatatan dalam perdagangan terus mengalami perkembangan, terutama ketika menjangkau wilayah geografis yang lebih luas, sehingga ragam barang yang diperdagangkan juga semakin banyak. Demikian pula, ketika ragam geografis asal barang juga mempengaruhi harga barang karena keunikan rasa dan citranya serta biaya transportasi yang berbeda. Dalam hal ini aktivitas pencatatan berkembang menjadi aktivitas peringkasan barang dagangan menjadi barang dagangan yang diperoleh dari negara dan diluar negara. Bersamaan dengan itu juga dilakukan aktivitas penggolongan masing-masing jenis barang dan daerah asalnya dan biaya untuk mendapatkan barang itu. Aktivitas peringkasan dan penggolongan ini memungkinkan seorang pedagang menentukan harga jual secara tepat dalam rangka memperoleh keuntungan penjualan barang dagangannya.
  
Fase Masa Kini

Kemudian pada perkembangan selanjutnya, aktivitas perdagangan terus mengalami kemajuan yang signifikan sehingga para pedagang yang semula ikut serta secara langsung dalam kegiatan memperoleh dan menjual barang dagangannya berkembang pada suatu fase dimana dia hanya melakukan pengawasan terhadap kegiatan dagangnya dengan mempercayakan aktivitas operasional kepada beberapa orang tertentu. Hal ini menyebabkan terjadinya aktivitas pelaporan berdasarkan ketentuan dan standar pencatatan, peringkasan dan penggolongan yang sesuai dengan keinginan pemilik aktivitas perdagangan itu sebagai pemilik modal untuk memperoleh barang yang akan diperdagangkan.
            Uraian di atas menimbulkan apa yang kita kenal dengan aktivitas pembukuan dimana pencatatan, peringkasan, penggolongan dan pelaporan dilakukan sesuai dengan aktivitas rutin perdagangan. Pembukuan ini dirasa kurang mampu menampung seluruh transaksi perdagangan yang dilakukan terutama ketika muncul transaksi pembayaran dan perolehan barang di kemudian hari (hutang-piutang) yang menjadi sangat rumit ketika hanya dicatat dalam pembukuan sederhana. Hal ini menyebabkan munculnya akuntansi sebagai metode pencatatan, peringkasan, penggolongan dan pelaporan aktivitas bisnis sesuai dengan peruntukkan sehingga pemilik usaha dapat memonitor dan mengendalikan bisnisnya melalui pelaporan keuangan yang disajikan oleh orang yang dipercayainya menjalankan operasi bisnis tersebut.
            Akuntansi tidak akan muncul ketika aktivitas hidup dan kehidupan manusia tidak berkembang. Akuntansi tidak akan muncul ketika manusia hanya sekedar menjalankan aktivitas perdagangan berupa barter saja. Akuntansi tidak akan muncul ketika revolusi industri dimana manusia mampu mengolah dan menghasilkan barang baru untuk memenuhi kebutuhannya melalui pengolahan dan produksi barang dengan bahan baku dari alam tidak ada. Akuntansi tidak akan muncul ketika aktivitas keinginan manusia tidak berkembang dan hanya cukup dipenuhi oleh kebutuhan dengan bercocok tanam dan berburu saja. Akuntansi tidak akan muncul ketika manusia tidak memiliki pengetahuan tentang angka dan ilmu pengetahuan matematika. Namun perkembangan peradaban manusia yang diciptakannya sendiri mampu menginisiasi kemunculan akuntansi.
            Akuntansi terus mengalami perkembangan yang pesat sejalan dengan perkembangan dunia bisnis. Akumulasi berperan dalam perkembangannya sehingga menjadikannya paradigmatis. Paradigma didefinisikan sebagai (Ritzer, 1975 dalam Ritzer dan Goodman, 2008:697):
gambaran fundamental dari pokok bahasan dalam ilmu pengetahuan. Ia menentukan apa yang harus dipelajari, pertanyaan apa yang harus diajukan, bagaimana pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan, dan aturan apa yang harus diikuti dalam menanfsirkan jawaban-jawaban yang diperoleh. Paradigma adalah unit terluas dari konsensus dalam ilmu pengetahuan dan membedakan satu komunitas (atau subkomunitas ilmiah) dari yang lain. Ia memasukkan, mendefinisikan, menghubungkan sejumlah contoh, teori, dan metode serta instrumen yang ada di dalamnya.
            Pada perkembangannya akuntansi dipandang dari satu sisi yaitu sebagai salah satu alat untuk membantu suksesnya suatu bisnis. Pada tahap ini perhatian dicurahkan untuk lebih mendayagunakan alat ini sehingga mampu diterima oleh seluruh penggunanya (generalisasi). Perhatian juga ditujukan kepada obyektivitas penggunaan alat itu dalam menyajikan pelaporan keuangan kepada para pemilik bisnis sehingga tidak terdapat perbedaan pandangan dan opini ketika pemilik yang berbeda membaca pelaporan keuangan produk akuntansi. Pada tahap ini muncul metode dan prinsip akuntansi akuntansi. Metode dan prinsip itu dikembangkan dengan meletakkan akuntansi diluar manusia yang membuat dan menciptakannya sehingga diperkirakan akan dapat diterima oleh semua orang dengan posisi yang serupa (independensi). Pada tahap inilah perkembangan akuntansi menuju sebuah ilmu dipandang dalam tataran mekanistis dan sistematis sekedara angka matematis saja sehingga harus dilihat pengaruhnya terhadap kinerja bisnis berdasarkan angka laba/rugi yang dihasilkannya. Ini merupakan pendekatan dari paradigma positivis.
            Veeger (1986: 233-234) menjelaskan bahwa paradigma positivis memiliki tiga hukum utama dalam penerapannya yaitu (1) pengetahuan ilmiah harus bersifat obyektif, (2) ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulangkali terjadi, dan (3) ilmu pengetahuan positif menyoroti alam dari segi ketergantungannya dan antarhubungan unsur-unsurnya. Obyektifitas akan tercapai jika ilmuwan mampu memisahkan dirinya dari faktor-faktor dari dia sendiri ketika mengamati suatu obyek sehingga terbebas dari perasaan, kepercayaan, nilai-nilai etis yang membuat dia memuji atau mencela obyek yang diamatinya. Dalam obyektifitas ini terkandung syarat intersubyektivitas dimana ilmu pengetahuan harus bersifat umum sehingga proposisinya dapat diuji dan dibuktikan dengan menggunakan observasi oleh lebih dari satu orang.
            Positivis juga mensyaratkan adanya pengulangan dalam ilmu pengetahuan. Pengulangan ini dipergunakannya untuk meningkatkan kemampuan prediksi. Oleh karena itu perlu dibuatkan pengkondisian tertentu, sehingga reaksi serupa berdasarkan metode ilmiah tertentu dapat diramalkan di masa mendatang. Peramalan itu akan lebih dipermudah ketiga ilmuwan positif melihat obyek berdasarkan unsur-unsurnya sebagai suatu sistem, bukan secara terpisah-pisah. Hal ini mengarahkan pada perhatian terhadap relasi-relasi eksternal obyek yang diteliti, terutama relasi kausal, bukan unsur/elemen penyusun obyek itu dimana manusia merupakan salah satu diantaranya. Inilah yang kemudian yang menegaskan bahwa praktek akuntansi selama ini kental dengan kapitalisme. Sehingga Sadar atau tidak bahwa perkembangan Ilmu pengetahuan dan kapitalisme selalu berinteraksi secara aktif melalui gerak dialektika yang tidak dapat dihindarkan. Gerakan ini memunculkan perkembangan teori ilmu pengetahuan seperti Positive Accounting Theory (PAT) yang sejalan dengan kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme secara pasti telah melahirkan teknologi yang membawa perubahan radikal dalam dunia modern. Sehingga akhimya Ilmu pengetahuan, teknologi dan kapitalisme menjadi tiga pilar yang saling membagi berperan dalam membentuk jaringan rasionalitas instrumental, rasionalitas efisiensi, birokrasi dan kalkulasi cost/benefit untuk memerdekakan dan mencerahkan manusia sesuai dengan cita-cita pencerahannya. Seiring dengan sejarah kelahiran teorinya, akuntansi merupakan salah satu ilmu sosial dimana ilmu pengetahuan dan prakteknya sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kapitalisme. Ini sejalan dengan asumsi pokok Positive Accounting Theory (PAT) itu sendiri yakni:
All individuals’ action is driven by self-interest and individuals will act in an opportunistic manner to the extent that the actions will increase their wealth ” Deegan (2006)
Intinya, semua tindakan individu dimotivasi atau didorong oleh kepentingan pribadi, bahkan tindakan oportunis (moral hazard) akan dilakukan, selama tindakan tersebut mampu meningkatkan kesejahretaannya. Dalam kondisi seperti ini maka etika dan moralitas individu atau praktisi bukan menjadi hal penting dalam menjalankan praktek akuntansi. Sehingga pada akhirnya jaringan kerja dan relasi-relasi yang dibentuk kapitalisme telah mengubah perilaku dalam praktek akuntansi serta turut dalam mewamai praktek akuntansi yang disebut-sebut sebagai instrumen penting dalam dunia bisnis (the language of business). Sejalan dengan itu, Triker (1978 ; 8) melihat akuntansi sebagai anak dari budaya di mana akuntansi itu berada, atau dengan kata lain akuntansi sebagai suatu ilmu pengetahuan maupun prakteknya dibentuk melalui interaksi sosial yang sangat kompleks, jika lingkungan yang membentuk akuntansi tersebut adalah lingkungan kapitalisme, maka perkembangan akuntansi sebagai ilmu pengetahuan dan prakteknya akan bernafaskan kapitalisme juga. Beberapa bukti dalam dasawarsa terakhir telah menunjukkan bahwa praktek akuntansi selama ini kental dengan kapitalisme, bakhan, akuntansi dalam lingkungan idiologi kapitalisme menjadi tidak berdaya dan mau tidak mau harus tunduk dalam idiologi kapitalisme.
Premis tersesut bukan hanya sekedar isapan jempol semata, tetapi mari kita lihat kasus demi kasus yang mewarnai pasang surutnya praktek akuntansi merebak dimana-mana. Misalnya  di US kasus  KPMG, Arthur Andersen, Ernst & Young, Deloitte & Touche, Pricewater House Coper serta Friehling & Horowitz dalam kasus Computer Associatec, Lemout dan Hauspie,Enron, World Com, Xerox, One Tel, AOL, Bristol-Myers Squibb, Merrill Lynch, Tyco International, AIG.  Di Eropa seperti sekandal akuntansi BCC1, Maxwell, Polly Peck (UK) serta di Australia terjadi pada perusahaan HIH Insurance. Selain itu di negara-negara berkembang seperti skandal PT Bank Bali, Bank Lippo, Asian Agri and Sinar Mas Group (Indonesia), Bangkok Bank of Commerce (Thailand), United Engineers Bhd (Malaysia), Samsung Electronics and Hyundai (Korea) (John, Boone, Breach dan Friedman, 2000).
Dari argumentasi diatas jelas bahwa dalam lingkungan idiologi kapitalisme, etika dan moralitas individu atau praktisi bukan menjadi hal penting dalam menjalankan praktek akuntansi serta akuntansi menjadi tidak berdaya dan mau tidak mau harus tunduk dalam idiologi kapitalisme benar adanya. Namun demikian, meskipun akuntansi dibentuk oleh lingkungannya, akuntansi dapat pula berbalik mempengaruhi/membentuk lingkungannya, sebagaimana dipertegas oleh Mathews dan Parera (1993; 15) dengan mengatakan:
Although the conventional views is that accounting is socially constructed as a result of social, economic and political events, there are alternative approaches which suggest that accounting may he socially constructing.
Kaitannya dengan pernyataan tersebut dapat di pandang bahwa akuntansi diibaratkan sebagai pedang bermata dua, di satu sisi akuntansi dibentuk oleh lingkungannya (socially constructed) dan disisi lainnya akuntansi membentuk lingkungannya (socially constructing). Hal ini sekaligus memastikan bahwa akuntansi bukanlah suatu bentuk ilmu pengetahuan dan praktek yang bebas dari nilai (value free), tetapi sebaliknya akuntansi adalah disiplin ilmu pengetahuan dan prakteknya sarat dan kental dengan nilai. Namun, karena akuntansi dalam praktek bisnis modern sangat identik dengan angka-angka maka akuntansi dilabeli sebagai ilmu pengetahuan bebas nilai (value free). Hal ini yang kemudian menstikma bahwa tanpa angka adalah sesuatu hal yang sangat mustahil bagi akuntansi dan implikasinya adalah bahwa tanpa angka akuntansi kita tidak dapat menggambarkan kedaaan entitas bisnis, celakanya lagi argumentasi tersebut  di amini oleh banyak kalangan misalnya Hines (1981;61) yang mengemukakan, akan jadi apa "posisi keuangan " atau "kinerja " atau "ukuran " sebuah perusahaan tanpa akuntansi keuangan ? tanpa konsep "aktiva", kewajihan, "modal”, dan "laba" (yang semuanya diterjemahkan dalam bentuk angka). Dalam perkembangannya kemudian,Teori Akuntansi Positif (PAT) merupakan teori yang hadir untuk melengkapi Teori Akuntansi  Normatif. Oleh karena Teori Akuntansi  Normatif hanya berpikir apa yang seharusnya dilakukan dalam praktek akuntansi, maka menurut Scott (2000) bahwa Teori akuntansi positif berusaha untuk membuat prediksi yang baik sesuai dengan kejadian yang nyata. Artinya  teori akuntansi positif berusaha menjawab pertanyaan timbul dari fenomena :
1.       Apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang diperoleh dalam pemilihan metode akuntansi alternatif ?
2.       Apakah biaya yang diperoleh sebanding dengan manfaat yang diperoleh dalam regulasi dan proses penentuan standar akuntansi ?
3.       Apa dampak laporan keuangan yang dipublikasikan pada harga saham ?

Berdasarkan pandangan inilah Teori akuntansi positif mempunyai kepercayaan bahwa realita sosial berada secara independen dari manusia yang memiliki sifat atau esensi tersendiri. Hal ini mengakibatkan fenomena empiris terpisah dari penelitian. Dengan demikian validitas ilmiah dari dunia empiris diuji melalui observasi. Selanjutnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas dalam teori akuntansi positif dapat dikelompokkan menjadi dua tahap, yakni :
Pertama, penelitian akuntansi dan perilaku pasar modal. Dalam tahap ini tidak dijelaskan tentang praktek akuntansi, tetapi dilakukan penelitian terhadap hubungan pengumuman laba dengan reaksi harga saham. Untuk melakukan penelitian dalam tahap ini digunakan Hipotesis Pasar Efisien (Efficiency Market Hyphothesis) (Scott,2000). Pasar modal efisien adalah pasar modal dimana harga surat-surat berharga yang diperdagangkn setiap waktu secara wajar dan merefleksikan semua informasi yang diketahui publik berkaitan dengan surat berharga dan Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Kedua, penelitian dalam tahap kedua dilakukan untuk menjelaskan dan memprediksi praktek akuntansi antar perusahaan yang difokuskan pada alasan oportunistik dalam hal perusahaan memilih metode akuntansi tertentu, atau pada alasan efisiensi yaitu metode akuntansi dipilih untuk mengurangi biaya kontrak antara perusahaan dengan stakeholder-nya. Alasan pertama yaitu perspektif oportunistik disebut ex-post yaitu pemilihan metode akuntansi dilakukan sesudah diketahui faktanya. Alasan kedua yaitu perpektif efisiensi disebut ex ante karena pemilihan metode akuntansi dilakukan sebelumjgktanya diketahui. Penelitian dibidang ini menggunakan agency theory yang membahas tentang paradigma pengendalian (control). Sebagaimana tiga Hipotesis dalam teori akuntansi positif yang dirumuskan oleh Watt & Zimmerman (1986) dalam bentuk "oportunistik" yakni :
1.       Hipotesis program bonus (Plan Bonus Hypothesis), dalam ceteris paribus para manajer perusahaan dengan rencana bonus akan lebih memungkinkan untuk memilih prosedur akuntansi yang dapat menggantikan laporan earning untuk periode mendatang ke periode sekarang atau dikenal dengan income smoothing.
Dengan hipotesis tersebut apabila manajer dalam sistem penggajiannya sangat tergantung pada bonus akan cenderung untuk memilih metode akuntansi yang dapat memaksimalkan gajinya, misalnya dengan metode acrual.
2.       Hipotesis perjanjian hutang (Debt Convenat Hypothesis), dalam ceteris paribus manajer perusahaan yang mempunyai ratio leverage (debt/equity) yang besar akan lebih suka memilih prosedur akuntansi yang dapat menggantikan laporan earning untuk periode mendatang ke periode sekarang.
Dengan memilih metode akuntansi yang dapat memindahkan pengakuan laba untuk periode mendatang ke periode sekarang maka perusahaan akan mempunyai leverage ratio yang kecil, sehingga menurunkan kemungkinan default technic. Seperti diketahui bahwa banyak perjanjian hutang mensyaratkn peminjamjjntuk mematuhi atau mempertahankan rasio hutang atas modal, modal kerja, ekuitas pemegang saham dll.selama masa perjanjian, jika perjanjian tersebut dilanggar perjanjian hutang mungkin memberikan penalti, seperti kendala dalam deviden atau pinjaman tambahan.
3.       Hipotesis biaya politik (Political Hypothesis), dalam ceteris paribus semakin besar biaya politik perusahaan, semakin mungkin manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang menangguhkan laporan earning periode sekarang ke periode mendatang
Hipotesis ini berdasarkan asumsi bahwa perusahaan yang biaya politiknya besar lebih sensitif dalam hubungannya untuk mentransfer kemakmuran yang mungkin lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang biaya politiknya kecil dengan kata lain perusahaan besar cenderung lebih suka menurunkan atau mengurangi laba yang dilaporkan dibandingkan perusahaan kecil.

Fase Masa Datang

Pemisahan peneliti dengan obyek yang diteliti dan pandangan generalisasi serta ketiadaan unsur parsial seperti manusia didalamnya menjadi kritik bagi paradigma positivis. Oleh karena itu muncullah paradigma interpretif. Paradigma interpretif atau post-positivistik menurut Muhadjir (1998) memiliki kebenaran yang didasarkan pada esensi (sesuai dengan hakekat obyek) dan kebenarannya bersifat holistik. Data tidak hanya terbatas pada sesuatu yang empiri sensual, tetapi juga mencakup apa yang ada di balik empiri sensual (fenomena dan nomena). Dalam hal ini pelibatan peran manusia sebagai penyusun dan pelaksana suatu aktivitas yang diteliti dilibatkan sebagai obyek sekaligus subyek penelitian sehingga fenomena mampu dianalisis secara utuh dan tidak terpisah-pisah serta mencari hubungan kausal timbal balik bukan searah.
Pada tahap berikutnya akuntansi dipandang mengandung muatan nilai-nilai tertentu dimana nilai-nilai tersebut bersifat bebas. Oleh karena itu akuntansi dapat dipandang dari paradigma kritis. Paradigma Kritis (Griffiths 1998 dalam Satria, diakses 30 Nopember 2011) dalam memandang suatu realitas penuh dengan muatan ideologi tertentu, seperti Neo-Marxisme, Materialisme, Feminisme dan paham lainnya yang percaya bahwa; kondisi manusia dibentuk oleh kondisi sosialnya saat itu, dengan kata lain, human nature bukanlah sesuatu yang fixed; individu bisa dikelompokkan menjadi kelompok identitas yang memiliki kepentingan yang sama; tidak ada ‘fakta’ dalam dunia ini, yang membentuk persepsi seseorang adalah nilai yang dimilikinya; walaupun memiliki perbedaan ras, etnis, gender, dan kelas sosial, pada dasarnya manusia memiliki satu tujuan hidup yang sama yaitu meraih kebebasan. Robert Cox, salah seorang pemikir yang menganut paradigma ini menjelaskan bahwa teori kritis memandang dunia seperti apa adanya, dimana institusi dan hubungan sosial politik dianggap sebagai kerangka tindakan yang given.
 Pada perkembangan berikutnya sebagai pengetahuan paradigmatis, akuntansi juga dipandang dari paradigma posmodernis. Pada dasarnya, Postmodernisme (Lyotard 1984 dalam Satria, diakses 30 Nopember 2011) dapat didefinisikan sebagai sebuah pemikiran yang menolak segala bentuk universalitas dan klaim-klaim kaum rasionalis mengenai kebenaran ilmiah dengan menggunakan teknik dekonstruksi dan geneologi. Penganut Postmodernisme cenderung melakukan resistensi terhadap narasi-narasi besar yang mereka percaya “ditanamkan” oleh pihak-pihak tertentu. Mereka, dengan demikian, cenderung menghargai kekayaan dan kearifan lokal yang telah ada.
Riset demi riset dilakukan dibidang penelitian akuntansi dan perilaku pasar modal dan prilaku oportunistik dalam kaitanya agency theory. Seiring dengan perkembangan Teori akuntansi positif tidak terlepas dari kritik pedas oleh berbagai kalangan baik “positive” maupun “negative” seperti dilakukan Ball dan Foster (1982), Tinker et.al. (1982), Christenson (1983), Holthausen & Leftwich (1983), Lowe et.al (1983), Mc Kee et.al (1984), Whittington (1987), Hines (1988), Sterling (1990), Boland dan Gordon (1992), Gaffikin (2005). Kritik “positif” terhadap Positive Accounting Theory namun sayangnya kritik-kritik tersebut hanya berkutat pada tataran metodologis dan untuk kepentingan pragmatism utility of accounting research semata. Sedangkan kritik “negatif” yang sebenarnya lebih fundamental, pada dataran filosofis (value laden) dan asumsi dasar teoritis (utility maximization), ternyata tidak (atau belum?) dipahami sebagai bentuk relationship of scientific accounting development. Tetapi selalu dipahami sebagai contradiction of scientific accounting development (Aji Dedi Mulawarman : 2007).
Berdasarkan argumentasi-argumentasi kritik yang disampaikan oleh para pneliti tersebut, perlu di tegaskan bahwa dimana keberadaan akuntansi sebuah ilmu pengetahuan, apakah akuntansi merupakan ilmu pengetahuan yang bebas nilai (value free) atau akuntansi merupakan ilmu pengetahuan yang tidak bebas nilai (value laden). Disinilah sangat jelas bahwa peran dan bagaimana paradigma berkerja.

Referensi :
Aji Dedi Mulawarman (2007) Positive Accounting Theory: Apakah Perlu Dikritik? http://ajidedim.wordpress.com/2007/12/26/positive-accounting-theory-pakah-perlu-dikritik/ di download pada tanggal 7/04/2012
Boland Lawrence A, Irene M. Gordon. 1992. Criticizing Positive Accounting Theory. Contemporary Accounting Research. 9(1). pp. 142-170
Christenson, Charles. 1983. The Methodology of Positive Accounting. The Accounting Review. LVIII (1) pp 1-22.
Deegan, C. 2006. Financial Accounting Theory. 2 Edition. Mcgraw-Hill Australia Pty Ltd.
Gaffikin, 2005. Positive Accounting: Where About?. Notes for an Introduction to Theoritical Foundations of Research. The First Postgraduate Consortium on Accounting. Brawijaya University. March, 1, 2005.
Lawrence Boland,1992, Critizing Positive Accounting Theory, Journal of Accounting Research, Vol.9, no. l(fall), hal. 142-170
http://id.wikipedia.org/wiki/Paradigma di download pada tanggal 7/04/2012
Noeng, Muhadjir. Metode Penelitian Sosial. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan, 1998.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, 2009, Teori Sosiologi, dari Teori Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern, Kreasi Wacana, Yogyakarta.
Satria, Novandre, www.sribd.com/search_paradigma/pengertian_ paradigma.html. diakses tanggal 30 Nopermber 2011
Scott,2000,Financial Accounting Theory, Prentice hall Inc.
Tinker, Anthony M., Barbara D. Merino, Marilyn Dale Neimark. 1982. The Normative Origins of Positive Theories: Ideology and Accounting Thought. In Accounting Theory: A Contemporary Review. Jones, Stewart., C. Romano, J. Ratnatunga (ed.). 1995. Harcourt Brace. Australia.
Veeger, K.J., 1986, Realitas Sosial, Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan Individu-Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi, PT. Gramedia, Jakarta.
Watts and Zimmerman, 1986,Positive Accounting Theory, Prentice Hall.
­­­___________________,1990, Positive Accounting Theory : Ten Year Perspective, Accounting Review, Vol. 65,January
Whitington. 1987. Positive Accounting: A Review Article. Accounting and Business Research. 17(68). pp 327-336.

"Terima Kasih anda telah berkunjung di web ini. Semoga penyajian saya menjadi inspirasi dan bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan.Selamat Menikmati!